HEADLINE NEWS

Kategori

Bencana (20) BUMN (1) Business (15) Daerah (1367) Dana Desa (2) Disdiknas (1) Duka (4) Entertaiment (12) Games (5) Headline (1165) Hiburan (15) hukum (50) Internasional (72) Kasus (9) Keagamaan (3) Kebakaran (1) Kesehatan (60) Korupsi (9) KPUD (1) kriminal (34) Lakalantas (6) Migas (1) Misteri (5) Movie (2) Nasional (256) Parlemen (4) PEMDA (127) pendidikan (45) Perkebunan (1) Pilkada (2) Polisi (407) Politik (138) Pungli (1) Ragam (14) seni (2) Seremonial (11) Slider (136) Sosial (1) Sports (16) Technology (5) TMMD (1) TNI (16) Umum (36)

KASUS KORBAN TABRAK WARGA MUNGGUK KELAPA OLEH MOBIL PT BHA2, PIHAK MANAGEMENT SANGGUP BERIKAN SANTUNAN


S14n Sintang, Korban Meninggal Dunia Gunawan Markes adalah salah seorang Warga Desa Mungguk Kelapa Kecamatan Ketungau Hilir Kabupaten Sintang akibat Diduga ditabrak Mobil milik PT.BHA ( Buana Hijau Abadi) pada 13/8/2019 lalu, Mobil tersebut merupakan Mobil yang sering digunakan untuk Antar Jemput Anak Anak Sekolah di lingkungan Desa Mungguk Kelapa, dan persoalant ini telah dibawa ke ranah Hukum Adat.

Sumadi kepala Desa Mungguk Kelapa yang juga Orang Tua dari Almarhum Gunawan Markes pada Forum Musyawarah Adat di Aula Kantor PT. BHA2 Utara mengatakan, Pihak PT BHA2 Hanya memberi Uang Pemakaman sebesar Rp 5 Juta Rupiah pada Jumat 6/9/2019, didampingi oleh temenggung Adat Dayak Kabupaten Sintang, Berdasarkan Perdes no: 01 tahun 2016 tentang hukum adat yang berlaku didesa mungguk kelapa,  harusnya PT BHA2 membayar Ratusan juta rupiah, Namun saya tidak menutut penuh sesuai hukum adat tersebut karena masih bersifat musyawarah, Sebagai orangtua dari almarhum Gunawan Markes saya sangat menyesalkan sikap dari pihak management perusahaan yang tidak menghargai adat istiadat didaerah kami tempat mereka berusaha menanamkan investasi yang meraup keuntungan meliaran rupiah setiap tahunnya, ungkap Kades dengan nada kecewa.

Sementara Brudo Nainggolan Manager Humas PT BHA2 Utara pada pertemuan kedua kalinya tgl 06/09/2019 menyampaikan bahwa pihak management perusahaan hanya sanggup memberikan santunan sebesar Rp,70.000.000.-(tujuh puluh juta rupiah).


Teruman Temenggung Adat Kabupaten Sintang mengatakan kalau tim ketemenggungan Sintang yang hadir dalam forum musyawarah adat tersebu
t,karena sifatnya mendampingi jadi tidak bisa memutuskan menerima atau tidak, semua kembali kepada pihak orang tua korban, dan pengurus adat desa mungguk kelapa.walaupun ini sifatnya musyawarah tapi kita tidak boleh keluar dari adat yang berlaku didesa mungguk kelapa,dan musyawarah adat ini tidak mematikan hukum positif yang berlaku di Indonesia dan hukum positif itu ranahnya penegak hukum bukan ranahnya pengurus adat.Burlian SH Pemangku adat Melayu,juga mengatakan walau ini sifatnya musyawarah tapi kita dalam menentukan besaran nilai adatnya,tidak boleh keluar atau menambah dan mengurangi dari adat yang sudah baku di desa mungguk kelapa,karena korban meninggal dan lokasi kejadiannya diwilayah desa mungguk kelapa,Mesamadi tokoh masyarakat ketungau hilir mengatakan kalau  hukum adat pada dasarnya sudah ada sejak manusia itu ada dibumi ini,hukum adat itu bukan ditentukan berdasarkan mampu atau tidak mampunya seseorang,tapi ketika kita melanggar adat konsekwensinya kita harus membayar sangsi adat sesuai adat dimana kita berada.karena mungkin saja nilai hukum adat ini bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya.demikian juga hukum KUHP pasal apa yang kita langgar,sangsi hukum pada pasal itulah yang kita jalani,tidak memandang kita dari kelas dan status kehidupan kita.karena Sumadi atau orangtua korban dari Gunawan Markes belum bisa menerima santunan yang diberikan oleh pihak management PT BHA2 maka Brudo Nainggolan Manager Humas PT BH2 meminta waktu satu Minggu untuk menyampaikan dan menjawab,apa yang dihasilkan dari musyawarah pada tgl 06/09/2019 ke Management PT BHA2 di kantor pusat.


Mesamadi atau Tibay  selaku tokoh Masyarakat dan juga perwakilan keluarga korban,menyayangkan sikap  pihak perusahaan terkesan lambat menyelesailan persoalan ini, kejadian yang sudah lebih dari 3 minggu. "Belum ada titik temu antara kami dengan pihak perusahaan. Bahkan oleh pimpinan  PT. BHA 2 (pak brudo) di wilayah kejadian, kami diminta untuk menyurati dan menyampaikan tuntutan ke pimpinan perusahaan di Jakarta. Secara prosedural Ini tentunya sudah benar, tapi kami menyayangkan kejadian ini, harapan kami agar seluruh tingkatan Manajement terkait bersikap secara Profesional demi kepentingan Investor dan kepentingan masyarakat setempat, kata Tibay".( red, Ls)

Previous
« Prev Post