HEADLINE NEWS

Kategori

Bencana (28) budaya (2) BUMN (1) Business (15) Daerah (1369) Dana Desa (2) Disdiknas (5) disdiknas headline (1) Duka (5) Entertaiment (12) Games (5) Headline (1490) headline Nasional (2) healine (1) hedline (1) Hiburan (15) hukum (55) Internasional (72) Kasus (17) Keagamaan (3) Kebakaran (3) Kesehatan (65) Korupsi (11) KPUD (1) kriminal (56) Lakalantas (7) masional (1) Migas (1) Misteri (5) Movie (2) Nasional (304) olahraga (1) Opahraga (1) Parlemen (7) PEMDA (182) pendidikan (47) Perkebunan (1) Pilkada (2) Polisi (472) Politik (145) Pungli (2) Ragam (14) seni (2) Seremonial (17) Slider (136) Sosial (4) Sports (16) Technology (5) TMMD (1) TNI (21) Umum (37)
PT. LJA Laporkan Ahli Waris Ke Polda Kalbar Terkait Dugaan Kasus Penggusuran Sandung Raden Patih Jaya Manjuk

By On November 25, 2022

Sintang Kalbar - Kasus Penggusuran Sandung Raden Patih Jaya Manjuk yang diduga Dilakukan Oleh PT. Lingga Jati Al-Manshurin ( LJA yang berlokasi di Desa Bedaha Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang kalimantan Barat bergulir pada  Pelaporan Di Kantor Polisi Daerah Kalimantan Barat ( POLDA KALBAR ).
Pihak Penggugat yang mengaku Ahli Waris Suhaini Asoi Cs Resmi dilaporkan oleh PT LJA  Ke Polda Kalimantan Barat pada 24 November 2022 sekitar Pukul 18.20 wib dengan Nomor Polisi  : STTLP/B/497/XI/2022/SPKT/POLDA KALBAR, dengan Pelapor Wawan Prasetyo.

Kepada para Wartawan Wawan Prasetyo mengatakan, "Benar pada 24 November 2022 kita telah membuat Laporan Ke Polda Kalbar dengan Alasan alasan  PT. LJA untuk melaporkan Ahli Waris Suhaini Asoi Cs ke Polda Kalbar, Karena Obyek Tanah lokasi yang dipermasalahkan oleh ahli waris merupakan lahan yang diperoleh dari penyerahan saudara  Suhaini Asoi (ahli waris) dan sudah dibebaskan dan diganti rugi sebelum diserahkan kepada PT. LJA, Dan Lahan tersebut telah digarap atau di ladang oleh sdr. Naroh selama 9 kali penggarapan ulang atau berladang sebelum diserahkan kepada PT. LJA, Kemudian Dapat disimpulkan bahwa lahan yang digarap tersebut bukan merupakan lahan yang dikeramatkan atau dianggap sakral, dimana lahan tersebut diserahkan langsung oleh ahli waris Saudara Suhaini Asoi, Apabila lahan yang dipermasalahkan tersebut
diasumsikan sebagai tempat yang dikeramatkan atau disakralkan maka yang bertanggung jawab adalah pihak yang menyerahkan lahan tersebut", tegas Wawan Prasetyo.

Wawan Prasetyo menyampaikan, Ada kejanggalan dalam membuat  kesimpulan Notulen Rapat Kerja Komisi D DPRD  bersama Tim TKP3K Kabupaten Sintang tanggal 27 Oktober 2022 lalu, Awalnya Rapat kerja tersebut Akan melakukan investigasi ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang ada di lapangan yang  melibatkan para pihak terkait,  ternyata Kedatangan tim Komisi D DPRD dan Tim TKP3K Yang dipimpin oleh Wakil Bupati Sintang Melkianus S.Sos pada Tanggal 16 November 2022 malah membuat sebuah keputusan dengan Penyelesaian Sengketa Adat yang
tertuang dalam berita acara tanpa terlebih dahulu merumuskan hasil investigasi, Kemudian Penyelesaian Sengketa Adat  tidak melibatkan pihak PT. LJA,  sedangkan pihak Ahli Waris selaku penuntut terlibat langsung dalam proses perumusan tuntutan Sanksi Adat sebagaimana tertuang dalam Berita Acara, Hal ini jelas merupakan keputusan sepihak, Pungkasnya.


Foto : Saat Penyerahan Uang 

Dikatakan Wawan Prasetyo, "Jelas Bahwa pelaksana kegiatan pekerjaan dilokasi yang dipermasalahkan oleh Ahli Waris, pada saat itu sebagai juru ukur adalah Boni kemudian  Doni sebagai operator exavator yang melaksanakan pekerjaan merintis keliling lahan, Mayori sebagai operator Dozer yang melaksanakan pekerjaan land clearing
(pembersihan lahan), Enus sebagai pemandu unit alat berat yang melaksanakan pekerjaan memandu
pekerjaan bondri lahan (rintis keliling lahan) dan land clearing (pembersihan lahan), sehingga dalam surat pernyataan diatas bermaterai tidak ada melihat Sandung, Toras, Temaduk, Makam yang berada di lahan yang diperkarakan diluar Gupung Botas Rimba", ujarnya.

Wawan Prasetyo mengungkapkan, Dalam surat pernyataan bermaterai Enus dinyatakan pada saat mengikuti pengecekan lahan oleh Forum Temenggung Adat Dayak Kecamatan dan Kabupaten Sintang pada hari minggu tanggal 15 Mei 2022 melihat dan mengetahui bahwa barang bukti kayu Toras fisiknya berupa Kayu Belian diambil oleh Kanot atas perintah Ketua Forum Temenggung Adat Dayak Kabupaten Sintang Drs. Andreas M. Calon dari dalam Gupung Botas Rimba, Kemudian Sesuai keterangan Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Serawai S, Ahong  tanggal 30 Oktober 2022 yang pada intinya menyatakan bahwa lahan yang dipermasalahkan merupakan lahan bawas dan ladang bukan situs sebagaimana dimaksud oleh ahli waris atau penuntut", ungkapnya.

Ada poin Dalam kesimpulan Notulen Rapat Kerja Komisi D DPRD Kabupaten Sintang bersama Tim TKP3K Kabupaten Sintang tanggal 27 Oktober 2022 menyatakan "Manajemen PT Lingga Jati Al-Manshurin, Ahli Waris serta Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas di wilayah yang disengketakan selama proses penyelesaian sedang berjalan, Namun pada hari Jumat tanggal 4 November 2022 pihak Ahli Waris telah melakukan aksi demonstrasi anarkis dilokasi Wilayah Kerja PT.LJA dengan melakukan tindakan Penghentian aktivitas kerja PT. LJA dengan cara melakikan Pemagaran Adat atau Penyegelan Kantor dan Mess, Kemudian Pengrusakan, penjarahan, pencurian dan pembakaran aset PT Lingga Jati Al-Manshurin  Intimidasi dan pengancaman, jelas Wawan Prasetyo kembali.

Wawan Prasetyo melanjutkan, "Yang jelas Suhaini Asoi dari Bulan Juli 2020 sampai Bulan Juli 2022  dipekerjakan oleh PT Lingga Jati Al-Manshurin untuk mengurus lahan atau pemandu batas areal dan wilayah adat areal land clearing, Maka dari itu PT. LJA Secara tengas memutuskan, Menolak Bahwa isi berita Acara penyelesaian Sengketa Adat Penggusuran Sandung Raden Patih Jaya Manjuk yang berlokasi di Desa tanjung raya  Dusun Riam Pangan Melona Kecamatan Serawai pada tanggal 16 November 2022 lalu, maka permasalahan ini akan Kami tempuh melalui Jalur Hukum Positif Sesuai dengan Perundang Undangan yang berlaku, Dan Saya meminta kepada Seluruh pihak terkait agar PT. LJA beroperasi seperti biasa tanpa adanya gangguan dan penghentian dari pihak penggugat", Pesannya.
//red. TIM

Kasus Penangkapan Zircon Desa Jetak Abu - Abu

By On November 21, 2022


Foto : Erikson


Sintang Kalbar - Penanganan Kasus ditangkapnya 61 Ton Zirkon atau Puya di Dusun Beringin Jaya Desa Nanga Jetak Kecamatan Dedai masih abu - abu dan sampai hari ini belum ada kejelasan dari Polda Kalbar Polres Sintang, demikian disampaikan  Erikson Ketua PWRI Sintang pada 22 November 2022 di Sintang.

Dijelaskan Erik, Penangkapan Pasir Zircon atau Puya tersebut menurut penjelasan Kapolsek Dedai telah diamankan Barang Bukti bersama tersangka AK pada Kamis 29 September 2022 lalu di Polres Sintang, " yang jadi pertanyaan kasus ini telah bergulir hampir Dua Bulan namun belum juga ada titik terang", jelas Erik.

Erikson mengungkapkan, " Saya sudah Audiensi dengan Kejaksaan Negeri Sintang pada 21 November 2022 kemarin, Dan menurut Kejari Sintang, terkait kasus Zirkon atau Puya telah masuk di Kejaksaan Negeri Sintang, namun Tersangka beserta Barang Bukti masih di Polres Sintang", ungkapnya.

Dikatakan Erikson, "Seusai dari Kejaksaan Negeri Sintang, Selanjutnya kita ingin menindaklanjuti bergulirnya kasus penangkapan Zircon atau Puya di Jetak ke Kapolres Sintang, namun setibanya di Loby Polres Sintang Tommy Ferdian Tak kunjung dapat ditemui, sebab pada sebelumnya beliau sudah kita hubungi melalui Via Watshapp, Ajaibnya Setiap kita ingin melakukan Konfirmasi terkait penanganan Kasus di Polres Sintang, Kapolres Sintang tidak memberikan ruang kepada PWRI Sintang untuk diberikan penjelasan termasuk salah satunya Kasus Zircon, Ada apa sebbenarnya ini?, Jangan lagi ada terjadi Sambo Kedua Di Sintang ini!", sindirnya.

Sementara melalui Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sintang Budi mengatakan, "Kasus ini sudah P21, hanya saja tersangka bersama Barang bukti masih di Polres Sintang, artinya kita masih menunggu 14 hari tahap kedua dari Polres Sintang untuk penyerahan Barang Bukti bersama tersangka", kata Kasi Pidum.
// red.tim

PETI Marak, Perintah Kapolri Seolah Dipandang Sebelah Mata

By On November 20, 2022


Foto : PETI Di Sungai Kapuas


Sintang Kalbar - Pekerja Tambang Emas Tanpa Izin ( PETI ) marak di Sintang di antara Jembatan Kapuas Sintang  sampai Sungai Ketungau Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.

Sementara jelas Kapolri Jenderal Listyo Singit telah mengintruksikan  kepada jajarannya agar menindak para pelaku kejahatan salah satunya penyakit masyarakat dan Tambang tambang Illegal di seluruh Indonesia, namun Perintah Kapolri seolah dipandang sebelah mata oleh Polres Sintang.

Faktanya 19 November 2022, Dari Pantauan www.shot14news.com dan tim awak media memantau langsung terjun ke lapangan, terdapat kisaran Ratusan Set mesin Jek bertenaga Fuso merusak lingkungan habitat di Sungai Kapuas dan Sungai Ketungau hingga air sungai Keruh.

Menurut pengakuan Pekerja yang tidak mau di tuliskan namanya mengatakan, "kami baru bekerja pak, kalo untuk setoran ada pak Satu juta Lima ratus Ribu per set ke oknum oknum", katanya saat ditemui di lapangan pada 19/11/2022.

// red,tim

Telkomsel Dan Indosat Rugikan Konsumen, Koneksi Internet Lemot

By On November 19, 2022


Foto : Tower Indosat Merakai

Sintang Kalbar - Warga masyarakat Perbatasan Malaysia - Indonesia Kecamatan Ketungau tengah Nanga Merakai sangat mengeluh dengan  kondisi jaringan Telkomsel dan Indosat semakin hari semakin tidak dapat di akses karena Lelet alias Lemot, dalam kondisi era serba Digital masyarakat sangat dirugikan dirugikan dengan membeli paket internet sementara jaringan internet tidak dapat di akses, demikian dikatakan Lim salah satu Warga Merakai saat dihubungi 20 November 2022.
Dijelaskan Lim, "Tak terhitung lagi Saya menyampaikan laporan Sinyal Lemot kepada pihak Manajemen Telkomsel dan Indosat, namun tak kunjung ada perbaikan, dan diabaikan begitu saja, sementara saya harus beli paket untuk keperluan Belajar mengajar anak anak sekolah walau kondisi sinyal lelet", jelas Lim.

Lim mengungkapkan, "Setiap hari kita sampaikan terkait  koneksi internet yang lelet, bahkan tidak bisa digunakan Indosat, Telkomsel sampai hari ini sinyal tidak stabil, Koneksi internet Telkomsel tidak bisa digunakan dengan baik, lelet bahkan tidak bisa sepanjang hari, Telkomsel selama ini, sinyal 4G+ tidak muncul lagi", ungkapnya.

Dijelaskan Lim, "Terkait koneksi sinyal internet Lelet di Kecamatan Ketungau tengah, Kasihan masyarakat pakai Uang isi pulsa beli Paket Data, dimana perlindungan kami sebagai konsumen kalau seperti ini?, Koneksi internet berbulan bulan bahkan bertahun tahun sudah di komplen tidak kunjung baik, sepanjang hari sepanjang malam kecepatan internet yang sangat kecil sekali bahkan tidak bisa digunakan", Sindirnya.

Kami berharap kepada Pemerintah, agar segeralah melakukan perbaikan terhadap leletnya Koneksi Internet Telkomsel dan Indosat di Kecamatan Ketungau Temgah, apalagi para Siswa Siswi SMA, SD Tidak lama lagi mengikuti Ujian Akhir Semester yang Berbasis Komputer", Pinta Lim.
// red.

MASYARAKAT BEDAHA MEMBANTAH, TIDAK ADA SITUS DIGUSUR PT. LJA

By On November 12, 2022

Sintang Kalbar - Menelisik terkait adanya dugaan penggusuran Makam, Sandung, Temadu, Turas yang dilakukan Oleh Perusahaan yang bergerak dibidang Perkebunan Kelapa Sawit PT. LINGGAR JATI ALMANSHURYN ( PT. LJA ) yang berlokasi di Desa Bedaha Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, Tim Para awak Media yang dipimpin oleh Edison melakukan investigasi langsung kelokasi yang di sinyalir bersengketa antara Ahliwaris dan Pihan PT. LJA dan melakukan wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat dan warga masyarakat Desa Bedaha pada tanggal 26-09-2022 lalu.

Setelah tiba dilokasi Tempat Kejadian Perkara dihadapan tim para awak media, Kepala Desa Bedaha, Ketua Adat, Tumenggung dan para tokoh masyarakat Desa Bedaha, Tambunan selaku Manejer  PT.LJA menjelaskan, "Suadara Asoy terlibat dalam pembukaan Lahan karena pada saat itu Beliau adalah Karyawan PT. LJA, kemudian menjadi Ketua tim pembebasan Lahan waktu itu, dan Asoy termasuk dalam penyerahan Lahan kepihak Perusahaan, Jadi seandainya ada Situs yang dikatakan digusur oleh pihak perusahaan PT LJA yang menyerahkan adalah Saudara Asoy, dan lagi pula kami tidak mengetahui adanya Situs yang di gusur menjadi lahan Perkebunan PT LJA", jelas Tambunan.

"Boni yang masuk dalam Tim pengukur lahan, Doni operator exsa, Mayori operator doser dalam pembukaan lahan PT Linggar Jati Almanshuryn, mereka tidak menemukan situs yang dimaksud oleh ahli waris Asoy(cs)", ungkap Tambunan.

Sementara Tumenggung Desa Bedaha menjelaskan, Pertama kali lahan tersebut digarap tahun 1986 oleh Almarhum Bapak Lili, Kemudian Penggarapan dilanjutkan oleh beberapa peladang lainnya antara lain Urai dan Bapak Sera pada Tahun 1991, Selanjutnya terakhir digarap oleh Bapak Naroh tahun 2013 semuanya merupakan warga  Desa Bedaha,  mengenai keberadaan Sandung, Temadu, Toras dan Makam  dilokasi tersebut seperti tidak ada  seperti yang di tuduhkan oleh Ahli waris Asoy (Cs) dan Forum Ketemenggungan yang dipimpin oleh Drs.Am. Calon", jelas Temenggung.

Disamping itu, Edison juga menanggapi, "Kepada Tokoh masyarakat Desa Bedaha, Desa begori, Dusun Melona Desa Tanjung Raya agar berkata jujur dalam mengungkap fakta yang sebenarnya dan tidak ada yang di tutupi supaya dapat dipertanggung jawabkan oleh semua pihak, baik secara Hukum Adat maupun  Hukum Positif, jika benar adanya Situs , Cagar Budaya seperti, Sandung, Temadu, Toras dan Makan yang katanya  di gusur oleh PT. LJA Seperti apa yang disampaikan oleh Ahli waris asoy (CS) yang di dampingi   Forum Ketemenggungan Kabupaten.sintang yang di pimpin DRS.A.m.Calon  maka untuk itu PT LJA wajib bertanggung jawab secara Hukim Adat maupun Hukum Positif, Dan sebaliknya jika tidak terbukti  tuduhan itu atau mengada ada untuk kepentingan politik pribadi, maka ahli waris (Asoy CS) dan Forum Ketemenggungan yang dipimpin DRS.a.m.Calon wajib juga bertanggungjawab baik secara adat maupun Hukum sesuai printah undang undang dan negara harus adil atas kejadian ini", tegas Edison.

Edison  juga meminta agar tidak main main dengan Situs/ Cagar budaya, adat budaya karena adat Budaya sebelum Indonesia merdeka adat sudah ada untuk itu jika benar maupun tidak benar atas kejadian pelanggaran hukum yang di maksud di atas masing masing pihak untuk dapat mempertanggung jawabkan sesuai printah undang undang NKRI", ungkapnya.

Edison Mengajak semua pihak agar dapat menjaga keamaan dan ketertiban baik di Desa Bedaha, Desa Begori, Dusun melona desa Tanjung Raya dan PT Linggar jati almanshuryn untuk dapat menahan diri Sampai ada keputusan dari pihak yang berwenang tentang kasus ini demi kenyamanan kita bersama", ajaknya.
// red.Mor, tim.

F. KAHA, SEBUT PRESIDEN RI JOKO WIDODO ALIHKAN SEBAGIAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN TRANSMIGRASI LOKAL  KE SUKU ANAK DALAM

By On November 07, 2022

Sintang Kalbar - Terkait informasi Dugaan Pembohongan Informasi Publik yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten sintang tentang Pembangunan Perumahan Trannsmigrasi Lokal Masyarakat Miskin di Nanga Bayan Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang Kalimantan Barat dimana pada informasi sebelumnya Pembangunan Perumahan seharusnya dibangun 50 unit dan faktanya hanya dibangun 25 unit yang diduga ada indikasi Korupsi.

Menyikapi hal tersebut Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabuoaten Sintang F. Kaha selaku Penanggung jawab Kegiatan Pembangunan Perumahan Transmigrasi Lokal di Nanga Bayan  menjelaskan, "Pada Tahun Anggatan 2018 ada Satu Paket, Kemudian Tahap Kedua seharusnya kita dapat 50 unit, waktu itu diambil oleh Bapak Presiden Jokowi untuk Suku Anak Dalam di Sumatera, Dan saya tidak mengetahui lokasi Suku Anak Dalam, Karena Bapak Presiden yang mengalihkan sebagian Perumahan Transmigrasi lokal tersebut, kita tidak dapat berbuat apa apa", jelas F Kaha pada 25 Oktober 2022 diruang kerjanya.

"Mengenai mekanisme pemindahan Perumahan Transmigrasi lokal khusus Nanga Bayan Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang adalah Urusan Kementerian, itu merupakan Kewenangan dari Pusat", ungkap Kaha.

"F.Kaha mengatakan, Jumlah anggaran yang digunakan untuk Pembangunan Perumahan Transmigrasi Lokal Di Nanga Bayan 25 Unit Sekitar Rp 15 Milyar  karena kita juga menyiapkan Lahan dan Jalan", katanya.

Kaha menambahkan, "Sebenarnya saya hanya tanda tangan saja, yang mengurus segalanya adalah  PPTK Osmar Sihombing, kemudian yang memegan Uang adalah staf",  ujarnya.

Sementara Osmar Sihombing saat dikonfirmasi terkait Pembangunan Perumahan Transmigrasi Lokal Khusus Masyarakat Miskin tersebut tidak bersedia ditemui dengan alasan sibuk. 

Sementara ditempat terpisah Erikson Ketua DPC PWRI Sintang yang bertepatan turut menyimak pernyataan Kepala Dinas Sosial Dan Ketenaga Kerjaan Sintang mengatakan," Dari Penjelasan Bapak Kaha tersebut kita masih menyimpan rasa tanda tanya tentang fisik kegiatan Pembangunan Perumahan Transmigrasi Di Nanga Bayan, sebab dalam penjelasan tersebut ada kesan sesuatu yang belum jelas, jadi kita akan tetap melakukan Penelusuran terkait hal ini, saya masih belum yakin seorang Presiden sesuka hati mengalihkan anggaran, apalagi yang dialihkan itu hanya 25 unit ke Suku Anak Dalam", ungkap Erikson.

//red.tim

Diduga Dikorupsi Anggaran Peningkatan Jalan seputau Tiga - Merakai

By On November 05, 2022


Foo : Material Jalan Seputau merakai

Proyek Peningkatan Jalan Seputau Tiga Menuju Pusat Kecamatan Ketungau Tengah  yang dikerjakan Tahun Anggaran 2021 Lalu mengalami kerusakan yang sangat parah.
Diketahui Anggaran Untuk Peningkatan Jalan Seputau Tiga Menuju Pusat Kecamatan  Nanga Merakai Tersebut Menelan Biaya berkisar 9 Milyar tersebut Bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah ( APBD ) Kabupaten Sintang  TA 2021 yang dikerjakan oleh PT. HENDRA PUTRA MANDIRI yang beralamat di jalan Perdamaian Komp. Alam Damai I  blok B Nomor 6 Pal 9 Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.

Menurut informasi yang dihimpun, Ada dugaan Korupsi terhadap  Peningkatan Jalan Seputau Tiga - Nanga Merakai  yang seolah tertutup informasi sebab pada saat pelaksanaan kegiatan tidak memasang Papan Plang Proyek  sehingga warga masyarakat setempat tidak dapat mengakses bentuk kegiatan jalan Tersebut.

Menurut warga setempat Sandi mengatakan Peningkatan Jalan Seputai Tiga - Merakai mulai bekerja sampai selesai tidak pernah terlihat Papan Plang Proyek, sehingga Kami tidak mengetahui jumlah Anggaran yang sebenarnya", kata Sandi.

Dijelaskannya, "Jika dilihat dari segi pekerjaan, ada Pengaspalan sekitar 1, 6 Kilometer dan penibunan sekitar 500 meter, sementara informasi yang beredar Anggaran 9 Milyar sangat Fantastis, serasa tidak sesuia dengan pekerjaan di lapangan, jadi patut diduga sebagian Angaran sudah di Korupsi oleh Kontraktor, Coba Bapak Lihat kondisi jalan hancur lebur, seperti tidak pernah dijamah oleh Anggaran", jelas Sandi pada pada 5 November 2022 di nanga Merakai.

"Kami berharap, Aparat Penegak Hukum di Kalimantan Barat  Melakukan Pemeriksaan terhadap Kontraktor PPK, PPTK, dan Konsultan Pengawas pada peningkatan  Jalan Seputau Tiga - Nanga Merakai", pinta Sandi.

Sandi mengungkapkan, "Contoh kecil, Pasir dan Batu yang digunakan untuk pengecoran Rabat Beton saja sebagian besar Menggunakan material Sungai Ketungau dan itu tidak layak yang tidak memiliki sertifikasi, sekarang Rabat betonnya memgalami Retak retak, mungkin 5 Tahun Lagi Rabat betonnya sudah hancur, karena mutu materialnya saya kira tidak layak", ungkapnya.

"Saat dikonfirmasi Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Pekerjaan Umum Hendrikus mengatakanan pekerjaan tersebut telah diperiksa oleh Polda Kalimantan Barat",jelasnya dengan singkat.

Artinya Polda Kalimantan Barat telah melakukan Pemeriksaan terhadap Peningkatan Jalan Seputau Tiga - Nanga Merakai, dan itu artinya telah bergulir di Polda Kalbar  dan masih menunggu hasil Pemeriksaan Polda Kalbar.
// red.jhn