HEADLINE NEWS

Kategori

Bencana (4) BUMN (1) Business (14) Daerah (1169) Duka (1) Entertaiment (12) Games (5) Headline (1142) Hiburan (15) hukum (48) Internasional (72) Kasus (1) Keagamaan (2) Kebakaran (1) Kesehatan (38) Korupsi (1) KPUD (1) kriminal (13) Lakalantas (2) Migas (1) Misteri (5) Movie (2) Nasional (239) PEMDA (2) pendidikan (41) Pilkada (1) Polisi (124) Politik (138) Ragam (14) seni (2) Slider (136) Sports (16) Technology (5) TMMD (1) TNI (5) Umum (35)

WAKIL BUPATI SINTANG Drs ASKIMAN MM TUTUP GAWAI DI SUNGAI RUAI TIRTA KARYA

Askiman
S14n Sintang,  Pemerintah Kabupaten Sintang sangat senang karena dari tahun ke tahun semakin banyak Masyarakat kembali mengadakan gawai, "Ini menandakan bahwa perhatian kita untuk melestarikan budaya Suku Dayak masih tinggi," ungkap Wakil bupati Sintang, Drs. Askiman, MM, pada saat menutup gawai Dayak di Dusun Sungai Ruai Desa Tirta Karya Kecamatan Ketungau Tengah, Kamis (04/07/2019).
 Askiman juga menyarankan kepada aparatur desa untuk mengalokasikan dana desa guna mendokumentasikan adat budaya leluhur. Hal tersebut penting agar masyarakat dapat mempertahankan kearifan lokal masyarakat setempat.
 "Oleh undang-undang desa kita bisa menggunakan dana desa untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di kita," ungkap Askiman. "Kalau bukan kita dan kalau tidak sekarang siapa lagi yang akan mengurus adat budaya kita, siapa lagi mau diharap, mereka yang sudah tua masih ingat adat istiadat mumpung mereka masih ada segeralah kita mengu
mpulkan lagi adat-adat kita ini," pesannya.
 Pada tahun ini, gawai pokok di Dusun Sungai Ruai dilakukan secara komunal oleh 7 keluarga, dengan bentuk Gawai Matah Ayu. Gawai ini merupakan bentuk ucapan syukur atas hidup sehat khususnya bagi salah seorang keluarga mereka. Gawai ini merupakan simbol menutup masa merawat anggota keluarga mereka yang sebelumnya berada pada kondisi sakit-sakitan.
 Wakil Bupati Sintang itu memukul gong sebanyak 7 kali tanda ditutupnya pesta adat Matah Ayu di Sungai Ruai. Beliau juga berkenan membuka tempayan tuak pemali yang disediakan oleh pemilik ajat gawai. Ada 7 tempayan tuak salai, tuak yang diperam diatas para-para dapur. Tuak ini khusus dibuat untuk keperluan Gawai Matah Ayu ini.
 Sukardi selaku kepala desa Tirta Karya mengatakan bahwa masyarakat desanya masih sangat menjaga budaya nenek moyang,"Tahun kami menyelenggarakan gawai adat, biasanya setelah selesai masa panen padi," kata Sukardi. "Seperti yang sudah-sudah, tahun ini pun kami begawai. Cuma bedanya, tahun ini pokok gawai kami itu Matah Ayu," tambahnya. ( red, hum) 

Previous
« Prev Post